Minggu, 01 Desember 2013
Sabtu, 30 November 2013
Legenda Danau Rayo (Bujang Kurap)
Zaman dahulu kala ada sebuah desa yang bernama Pagar Remayu, dan pada
akhirnya berubah menjadi Karang Panggung. Dipimpin oleh empat orang
kakak beradik, yaitu Seteguk Abang Mata, Rio Cinde, Raden Cili dan
Bujang Teriti. Di antara keempat kakak beradik itu ada seorang yang
mempunyai anak gadis luar biasa cantiknya. Yang bernama Putri Seruni. Sejak kecil telah di tinggal mati ibunya.
Tak ada seorangpun yang berani melamar putri Seruni karena kecantikannya hingga Seruni tumbuh menjadi gadis dewasa. Karena kecantikannya membuat Raja tidak mengizinkan lelaki lain mendekatinya. Munculah niat baginda untuk mempersunting anaknya sendiri untuk dijadikannya permaisuri.
“Aku nak kawin dengan putriku Hulubalang. Tolong kau restui aku” Kata Baginda suatu hari.
“Jangan baginda, ini tidak pantas kita lakukan. Melanggar adat Baginda” kata Hulubalang meyakinkan.Tapi baginda masih bersikukuh untuk mengawini putrinya. Semakin dihalangi, semakin besarlah hasratnya.
Suatu hari baginda pergi menemui seorang Sunan yang bijak di Palembang. Sang Raja bertanya kepada Sunan.
“Sunan, apabila ada orang yang menanam pisang, siapa yang berhak mengambil buahnya” Lalu jawab Sunan “Tentu orang yang menanamnya”.
“Terima kasih Sunan aku telah mendapat jawabannya” Kata Raja dengan wajah berseri. Rajapun pulang dan mengabarkan kepada rakyatnya bahwa Sunan menyetujuinya. Akhirnya tersiarlah keseluruh pelosok negeri dan dipersiapkanlah pesta besar-besaran tujuh hari tujuh malam menjelang perkawinan Baginda dengan Putri Seruni anaknya.
Di tengah keramaian pesta, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang buruk rupa. Badanya penuh koreng yang menjijikan. Semua merasa jijik melihatnya. Si buruk rupa dihardik, bahkan dilempari dan dicaci maki.
“Hai Bujang Kurap! Mengapa kau datang kemari? Tidak pantas orang seperti kau datang di pesta yang meriah ini” Kata seorang Hulubalang.
“Kau dengar Bujang Kurap!! Pergi kau dari sini. Kami jijik melihat badanmu yang penuh kurap dan busuk!!” Akhirnya Bujang Kurap pergi ke pinggir dusun. Dilihatnya semua masyarakat pergi ke pesta Baginda. Hanya ada seorang nenek yang berdiam di rumah. Nenek Bengkuang namanya. Sang nenek sangat ramah menyambut kehadiran Bujang Kurap.
“Nek, mengapa tidak pergi ke alun-alun? Bukankah di sana ada pesta besar?”
“Nak, aku tidak suka dengan baginda. Adat mana yang memperbolehkan bapak menikahi anaknya?” Kata Si nenek.
“Nek, aku lapar sekali, apakah nenek punya makanan” kata bujang kurap sambil memegang perutnya.
“Aduh anak muda…, sejak pagi nenek belum makan. Di rumah nenek tidak ada makanan nak”
“Jangan takut nek, lihatlah di situ sudah ada makanan untuk kita”
Ajaib! tiba-tiba munculah hidangan yang lezat-lezat tergelar di tikar.
”Mari nek kita makan sama-sama”. Sang nenek makan bersama Bujang Kurap. Selesai makan, Bujang Kurap berpesan dengan nenek.
“Nek, apakah nenek ada lidi kelapa hijau dan parang?”
“Untuk apa anak lanang?”
“Aku akan membuat rakit dari aur kuning dan meraut tujuh helai lidi, nek. Apabila terjadi sesuatu, naiklah nenek di atas rakit yang akan kuikat di tiang pondok nenek”. Si nenek mengangguk mengerti. Tahulah nenek bahwa pemuda yang dihadapannya bukanlah pemuda sembarangan. Lalu Bujang Kurap menuju alun-alun tempat pesta setelah berpamitan dengan nenek Bengkuang.
Sampai di tempat pesta, kembali Bujang Kurap ditendang, dilempari, diludahi dan di hardik disuruh pergi. Mendapatkan hinaan tersebut, naiklah darah Bujang Kurap. Di tancapkannyalah tujuh helai lidi itu ke tanah.
“Hai!! Orang-orang sombong! Baik! Kalian boleh membunuh atau mengusirku dari sini. Setelah kalian berhasil mencabut lidi yang kutancapkan ini” Lalu Bujang Kurap menancapkan lidi tersebut dekat kakinya. Semua mentertawakan dan meremehkannya. Bergantian mereka mencabut lidi tersebut.
“Aii!! Cak kepakam nian kau Bujang Busuk!. Hanya mencabut lidi? Ini kan permainan anak kecil” Kata salah seorang penggawal. Tapi tak satupun dari penduduk tersebut yang mampu mencabut lidi yang ditancapkan Bujang Kurap, semua menyerah.
“Hai orang-orang sombong. Hanya mencabut lidi saja kalian tidak mampu” Kata Bujang Kurap. Lalu Bujang Kurap membanca mantranya;
“Ping kecaping piring beling
beruang hitam beruang putih
embun semibar cabut lidi nyiur hijau”
Dan “Hap!!” Apa yang terjadi? Tiba-tiba dari tempat lidi tertancap itu menyembur air yang sangat kencang.
”Tolooong....tolong....” Teriakan minta tolong datang dari mana-mana tak mampu menahan air yang keluar dari bumi begitu kencangnya. Sebentar saja panggung tempat keramaian karam. Dusun Remayu dan penduduknya tenggelam, Dusun yang maha luas berubah menjadi genangan air.
Untuk mengenang kejadian tersebut dusun Remayu berubah menjadi desa Karang Panggung. Dan genagan air yang telah menenggelamkan dusun tersebut karena luasnya maka disebutlah Danau Rayo. Sementara itu, pondok tempat nenek Bengkuang terapung-apung di tengah danau yang berubah menjadi rumput rumpai yang kekuning-kuningan
Sejak saat itu, pahamlah orang jika Bujang Kurap bukanlah manusia biasa. Usai menenggelamkan dusun Remayu, Bujang kurab raib entah kemana.*
*Digubah kembali oleh RD.Kedum- mantra ilustrasi RD.Kedum.
Sumber; Masyarakat Sungai Jernih-Jamrawi (Suku Anak Dalam) & Catatan Suandi Syam
Tak ada seorangpun yang berani melamar putri Seruni karena kecantikannya hingga Seruni tumbuh menjadi gadis dewasa. Karena kecantikannya membuat Raja tidak mengizinkan lelaki lain mendekatinya. Munculah niat baginda untuk mempersunting anaknya sendiri untuk dijadikannya permaisuri.
“Aku nak kawin dengan putriku Hulubalang. Tolong kau restui aku” Kata Baginda suatu hari.
“Jangan baginda, ini tidak pantas kita lakukan. Melanggar adat Baginda” kata Hulubalang meyakinkan.Tapi baginda masih bersikukuh untuk mengawini putrinya. Semakin dihalangi, semakin besarlah hasratnya.
Suatu hari baginda pergi menemui seorang Sunan yang bijak di Palembang. Sang Raja bertanya kepada Sunan.
“Sunan, apabila ada orang yang menanam pisang, siapa yang berhak mengambil buahnya” Lalu jawab Sunan “Tentu orang yang menanamnya”.
“Terima kasih Sunan aku telah mendapat jawabannya” Kata Raja dengan wajah berseri. Rajapun pulang dan mengabarkan kepada rakyatnya bahwa Sunan menyetujuinya. Akhirnya tersiarlah keseluruh pelosok negeri dan dipersiapkanlah pesta besar-besaran tujuh hari tujuh malam menjelang perkawinan Baginda dengan Putri Seruni anaknya.
Di tengah keramaian pesta, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang buruk rupa. Badanya penuh koreng yang menjijikan. Semua merasa jijik melihatnya. Si buruk rupa dihardik, bahkan dilempari dan dicaci maki.
“Hai Bujang Kurap! Mengapa kau datang kemari? Tidak pantas orang seperti kau datang di pesta yang meriah ini” Kata seorang Hulubalang.
“Kau dengar Bujang Kurap!! Pergi kau dari sini. Kami jijik melihat badanmu yang penuh kurap dan busuk!!” Akhirnya Bujang Kurap pergi ke pinggir dusun. Dilihatnya semua masyarakat pergi ke pesta Baginda. Hanya ada seorang nenek yang berdiam di rumah. Nenek Bengkuang namanya. Sang nenek sangat ramah menyambut kehadiran Bujang Kurap.
“Nek, mengapa tidak pergi ke alun-alun? Bukankah di sana ada pesta besar?”
“Nak, aku tidak suka dengan baginda. Adat mana yang memperbolehkan bapak menikahi anaknya?” Kata Si nenek.
“Nek, aku lapar sekali, apakah nenek punya makanan” kata bujang kurap sambil memegang perutnya.
“Aduh anak muda…, sejak pagi nenek belum makan. Di rumah nenek tidak ada makanan nak”
“Jangan takut nek, lihatlah di situ sudah ada makanan untuk kita”
Ajaib! tiba-tiba munculah hidangan yang lezat-lezat tergelar di tikar.
”Mari nek kita makan sama-sama”. Sang nenek makan bersama Bujang Kurap. Selesai makan, Bujang Kurap berpesan dengan nenek.
“Nek, apakah nenek ada lidi kelapa hijau dan parang?”
“Untuk apa anak lanang?”
“Aku akan membuat rakit dari aur kuning dan meraut tujuh helai lidi, nek. Apabila terjadi sesuatu, naiklah nenek di atas rakit yang akan kuikat di tiang pondok nenek”. Si nenek mengangguk mengerti. Tahulah nenek bahwa pemuda yang dihadapannya bukanlah pemuda sembarangan. Lalu Bujang Kurap menuju alun-alun tempat pesta setelah berpamitan dengan nenek Bengkuang.
Sampai di tempat pesta, kembali Bujang Kurap ditendang, dilempari, diludahi dan di hardik disuruh pergi. Mendapatkan hinaan tersebut, naiklah darah Bujang Kurap. Di tancapkannyalah tujuh helai lidi itu ke tanah.
“Hai!! Orang-orang sombong! Baik! Kalian boleh membunuh atau mengusirku dari sini. Setelah kalian berhasil mencabut lidi yang kutancapkan ini” Lalu Bujang Kurap menancapkan lidi tersebut dekat kakinya. Semua mentertawakan dan meremehkannya. Bergantian mereka mencabut lidi tersebut.
“Aii!! Cak kepakam nian kau Bujang Busuk!. Hanya mencabut lidi? Ini kan permainan anak kecil” Kata salah seorang penggawal. Tapi tak satupun dari penduduk tersebut yang mampu mencabut lidi yang ditancapkan Bujang Kurap, semua menyerah.
“Hai orang-orang sombong. Hanya mencabut lidi saja kalian tidak mampu” Kata Bujang Kurap. Lalu Bujang Kurap membanca mantranya;
“Ping kecaping piring beling
beruang hitam beruang putih
embun semibar cabut lidi nyiur hijau”
Dan “Hap!!” Apa yang terjadi? Tiba-tiba dari tempat lidi tertancap itu menyembur air yang sangat kencang.
”Tolooong....tolong....” Teriakan minta tolong datang dari mana-mana tak mampu menahan air yang keluar dari bumi begitu kencangnya. Sebentar saja panggung tempat keramaian karam. Dusun Remayu dan penduduknya tenggelam, Dusun yang maha luas berubah menjadi genangan air.
Untuk mengenang kejadian tersebut dusun Remayu berubah menjadi desa Karang Panggung. Dan genagan air yang telah menenggelamkan dusun tersebut karena luasnya maka disebutlah Danau Rayo. Sementara itu, pondok tempat nenek Bengkuang terapung-apung di tengah danau yang berubah menjadi rumput rumpai yang kekuning-kuningan
Sejak saat itu, pahamlah orang jika Bujang Kurap bukanlah manusia biasa. Usai menenggelamkan dusun Remayu, Bujang kurab raib entah kemana.*
*Digubah kembali oleh RD.Kedum- mantra ilustrasi RD.Kedum.
Sumber; Masyarakat Sungai Jernih-Jamrawi (Suku Anak Dalam) & Catatan Suandi Syam
Menggoda Jiwa
Hatiku bertanya
berdebar jantung ku
Oh Mengapa
Berdegab-degub jantung ku
Saat kau menghiasi
Oh Relung hatiku
Ku melihat senyum mu
menggoda hati ku
Saat pertemuan itu
Ku melihat wajah mu
menggoda jiwa ku
Sejak waktu pertama bertemu
Oh Mengapa
Berdegab-degub jantung ku
Saat kau menghiasi
Oh Relung hatiku
Ku melihat senyum mu
menggoda hati ku
Saat pertemuan itu
Ku melihat wajah mu
menggoda jiwa ku
Sejak waktu pertama bertemu
Sabtu, 14 September 2013
Geisha - Lumpuhkan Ingatan ku
Lirik Lagu Dan Chord Geisha – Lumpuhkan Ingatanku
D
Jangan sembunyi
G
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Em
Sembunyi dari apa yang terjadi
A
Tak seharusnya hatimu kau kunci
D A
D G
Bertanya, cobalah bertanya pada semua
Em
Di sini ku coba untuk bertahan
A
Ungkapkan semua yang ku rasakan
E F#m
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
G A
Kau tinggalkan aku
Reff 1 :
G Em F#m Bm
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
G A
Ku ingin ku lupakannya
D
Jangan sembunyi
G
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Em
Sembunyi dari apa yang terjadi
A
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Reff 2:
G Em F#m Bm
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Em A D
Hapuskan memoriku tentang dia
G Em F#m Bm
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
G A
Ku ingin ku lupakannya
Int: G Bm G A
Reff 3:
A G#m C#m
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
F#m B E
Hapuskan memoriku tentangnya
A G#m C#m
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
A B
Ku ingin ku lupakannya
A G#m C#m
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
A B
Ku ingin ku lupakannya
C#m B
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
G#m
Kau tinggalkan aku
ILUSI HATI KU
Sinar cahaya terbias dalam imajinasi yang tak jelas
Imajinasiku terperangkap dalam ilusi yang gelap
Sinar cinta membekas dalam hati yang tak lagi pas
Dan hatiku yang terlelap dalam bayang ilusi yang telah lenyap
Andai aku bisa membaca hati dan pikiran
pastilah dunia ini ada dalam genggaman
Andai aku bisa membaca hati dan pikiran seseorang
pasti akan ku lakukan apa yang seharus nya aku lakukan sayang
namun sayang, semua ini hanya lah dalam khayalan
namun sayang, ini hanyalah tertinggal dalam angan
Semua sudah terlambat dalam hati telah tersesat
Tinggal lah Sisa-sisa ilusi dalam kisah yang sesaat
Imajinasiku terperangkap dalam ilusi yang gelap
Sinar cinta membekas dalam hati yang tak lagi pas
Dan hatiku yang terlelap dalam bayang ilusi yang telah lenyap
Andai aku bisa membaca hati dan pikiran
pastilah dunia ini ada dalam genggaman
Andai aku bisa membaca hati dan pikiran seseorang
pasti akan ku lakukan apa yang seharus nya aku lakukan sayang
namun sayang, semua ini hanya lah dalam khayalan
namun sayang, ini hanyalah tertinggal dalam angan
Semua sudah terlambat dalam hati telah tersesat
Tinggal lah Sisa-sisa ilusi dalam kisah yang sesaat
Rabu, 24 Juli 2013
Bait Terakhir
Bait terakhir
Di Bait terakhir
kisah itu berakhir
Di bait terkahir
cerita itu berakhir
Di Bait terakhir
kisah itu berakhir
Di bait terkahir
cerita itu berakhir
Di bait terakhir
Nafas cinta itu
menghembuskan cinta nya
untuk yang terakhir
Semua memang berat awal nya
namun itu lah kenyataan hidup
yang harus di jalani
Siap tidak siap kita harus siap untuk menerima nya
Nafas cinta itu
menghembuskan cinta nya
untuk yang terakhir
Semua memang berat awal nya
namun itu lah kenyataan hidup
yang harus di jalani
Siap tidak siap kita harus siap untuk menerima nya
karena ini lah kehidupan
Coba terima dengan lapang dada
Percaya lah...
bahwa akan ada kehidupan
yang jauh lebih indah
dari semua nya ini
Coba terima dengan lapang dada
Percaya lah...
bahwa akan ada kehidupan
yang jauh lebih indah
dari semua nya ini
Percayalah ...
akan ada kehidupan yang lebih baik setelah ini
Maka dari itu kita harus bisa lewati itu
Percayalah...
bahwa di setiap cobaab pasti ada hikmah nya
Dan di setiap musibah pasti ada hikmah nya
yang dapat kita ambil sebagai pelajaran ke depan nya
Dan Kini...
Yang harus di lakukan adalah dengan tetap bersyukur
Bersabar diri, berusaha serta bertawakkal pada tuhan yang maha kuasa
Pasrah diri pada nya.
Yang harus di lakukan adalah dengan tetap bersyukur
Bersabar diri, berusaha serta bertawakkal pada tuhan yang maha kuasa
Pasrah diri pada nya.
Cuaca Hati
Cuaca hati
Gerimis kali ini mengundang akan sebuah ingatan
tentang sepotong cerita di masa lalu
Hingga tak lama berselang Hujan turun dari langit dengan deras nya
seakan mengisyaratkan arti sebuah kerinduan yang ku rasakan saat ini
Dingin menyelimuti semua angan
udara kini sudah berubah,
dari yang dulu sejuk menjadi sedikit lebih panas kini
Halimun yang datang berhembus ini
seolah membawa serta rinduku
hingga terseret jauh ke lubuk hati terdalam
yang entah kepada hati siapakah Rindu itu berlabuh
aku pun tidak tahu...
karena yang aku tahu saat ini adalah terbawa serta nya semua khayalan dan harapan
Hingga cuaca hati itu berubah dan tidak seperti sedia kala lagi seperti di saat semua nya ada disini.
Gerimis kali ini mengundang akan sebuah ingatan
tentang sepotong cerita di masa lalu
Hingga tak lama berselang Hujan turun dari langit dengan deras nya
seakan mengisyaratkan arti sebuah kerinduan yang ku rasakan saat ini
Dingin menyelimuti semua angan
udara kini sudah berubah,
dari yang dulu sejuk menjadi sedikit lebih panas kini
Halimun yang datang berhembus ini
seolah membawa serta rinduku
hingga terseret jauh ke lubuk hati terdalam
yang entah kepada hati siapakah Rindu itu berlabuh
aku pun tidak tahu...
karena yang aku tahu saat ini adalah terbawa serta nya semua khayalan dan harapan
Hingga cuaca hati itu berubah dan tidak seperti sedia kala lagi seperti di saat semua nya ada disini.
Langganan:
Postingan (Atom)